Poligami

[BEWARE : LONG POST]

Asli pengen ngakak deh pas ngetik ini, ini aja sambil senyam senyum sendiri. Secara jarang banget ada wanita (baca : istri) yang membahas ini tanpa ada ‘sesuatu’ di baliknya *ngomong apa sihhh*
Walau judulnya “Poligami”, insyaAlloh ini bukan bahasan berat nan melankolis nan berderai air mata a la sinetron kok. Baca ya, insyaAlloh worth it 🙂

Bagiku dan suamiku, poligami bukanlah topik yang tabu. Kami berdiskusi secara terbuka dan blak-blakan soal yang satu ini, tentunya dengan diselingi candaan-candaan ringan (yang nggak melanggar syariat lho yaa), no hard feeling deh pokoknya.
Obrolannya apa sih kalo topiknya poligami? Macem-macem, mulai dari ‘ummi mau nggak dipoligami?’ (pertanyaan standar laki-laki, hehe..) sampai ‘siap nggak kita kalau memang akan poligami (suatu saat nanti)?’. Berhubung kami realistis, lihat keadaan sekarang aja, akhirnya diskusinya ya nggak jauh-jauh amat sih, nggak sampai beranda-andai suatu saat akan poligami beneran. Kayak beberapa malam yang lalu, aku dan suami ngobrol tentang poligami yang kira-kira begini (lupa obrolan aslinya :p)

Suami (S) : “Mi, si fulan (teman kami berdua) lagi gencar dengan tema poligami nih di sosmed”
Istri (I) : “Emang dia mau poligami bi?”
S : “Nggak tau”
I : “Oh..”
Hening sesaat.
I : “Abi mau poligami?”
S : “Ha?”
I : “Kalo ummi sih tenang-tenang aja soal poligami ini.”
S : “Kenapa emang?”

Pada penasaran nggak? Hehe..

Poligami itu bukan hal yang mudah dan sederhana, harusnya semua muslim/muslimah tau itu. Poligami itu berat, poligami itu kompleks. Ada rumah tangga yang sudah bahagia, lalu si suami memutuskan untuk menikah lagi, tapi malah rumah tangga tersebut jadi retak karena manajemen di dalamnya kurang bagus. Ya manajemen hati, ya manajemen maisyah, ya macem-macem lah. TAPI, banyak juga contoh rumah tangga yang sukses dengan lebih dari 1 ‘ratu’ (nggak usah sebut merek lah yaa). Jadi intinya bukan poligaminya yang salah (wong poligami itu ada di Al Qur’an lho). Berhasil tidaknya/bahagia tidaknya itu semua tergantung pelakunya.

Kalau ditanya ’emang kamu sendiri mau dipoligami?’, dengan tegas kujawab : tidak untuk saat ini. Aku tidak siap, oh bukan.. aku BELUM siap. Karena tau beratnya poligami, perlu kesiapan yang matang dong ya?
Jadi kalo suamiku setengah bercanda nanya aku mau dipoligami apa nggak, aku balik nanya, apa yang udah mas lakukan untuk membuatku siap dipoligami? Nyengir deh dia :p

Poligami itu keputusan besar, bukan cuma urusan berdua antara suami dan istri. Berumah tangga untuk pertama kalinya aja bukan cuma urusan berdua, apalagi poligami ya. Menurutku sih gitu. Walaupun yang menjalani biasa aja, tapi nggak enak banget kalo ditentang keluarga besar.

Jadi intinya, kalo mau poligami, suamiku harus..
1. Menyiapkan dan mengedukasi istri dan anak-anaknya, sampai kami siap lahir batin, sampai aku ikhlas dan legowo dimadu, terserah dia gimana caranya
2. Minta ijin ke mama-papaku dan mamah-papahnya (ini yang berat, mamah mertuaku sensitif sama tema poligami)
3. Siap maisyah, aku nggak mau ‘hidup susah’ dengan alasan poligami (hidup susah = bergantung sama orang tua/sanak saudara)

Udah itu aja sih. Oiya, aku nggak pro sama yang bikin argumen ‘Rasulullah aja poligaminya sama yang janda dan udah tua, anaknya banyak pula. Kalo mau poligami ya harusnya ngikutin Rasulullah donk’. Lihat dulu alasannya mau poligami itu apa, kalo memang mau mencontoh Rasulullah persis plek, ya silakan. Tapi kalau sampai mengikat ‘poligami itu HARUS seperti yang Rasulullah contohkan (kriteria madu yang janda/tua/banyak anak)’ it’s a big no.

Postingan ini bukan dalam rangka membela siapapun, juga bukan dalam rangka naikin image seseorang karena mau pemilu yaa..
Nggak ada maksud apa-apa kok, cuma memang aku niatkan nulis ini untuk pengingat. Bahwa inilah prinsip yang aku pegang, mudah-mudahan suatu saat aku lupa aku bisa baca lagi dan inget untuk nggak mengedepankan ego dan perasaan doang *secara gue wanita tulen gitu loh, masih dominan perasaan bangeeeettt*

Pertanyaan yang mungkin masih nyisa : Emang suamiku ada niat poligami?
Untuk saat ini sih nggak. (Kayaknya) dia berpandangan ‘buat apa melakukan sesuatu yang berpotensial menyakiti anak-istriku sementara kalau itu dilakukan belum tentu memberikan kebahagian padaku dan keluargaku?’
Bijak yah suamiku? Hihi..

Dan pemirsaaa…
Anda semua boleh banget nggak setuju sama tulisan ini, kecuali untuk bagian ‘poligami itu boleh dan ada di Al Qur’an serta sudah dicontohkan oleh Rasulullah’ yaa..
Tulisan ini semata pendapat pribadiku, berdasar pada pandanganku dan suami tentang poligami.
Kami belum melaksanakan poligami, jadi memang ini pendapat yang kurang mateng ya, nggak bisa dijadikan referensi, hihi..
Aku belum mengalami sendiri dimadu, suamiku belum mengalami sendiri punya istri lebih dari 1, tentu kami nggak paham bagaimana lika liku dan perasaan orang-orang yang berpoligami.
Dan kami mengakui bahwa orang-orang yang berpoligami dan sukses itu adalah orang hebat 🙂

Udah gitu aja, masalah sensitif soalnya :p

 

-@kantor, habis makan tumpengnya orang syukuran karena dapet promosi jabatan-

Jualan Gue

Dulu nggak pernah sedetik pun terlintas di pikiranku bahwa suatu hari aku akan jadi pedagang. Nggak ada bakat, males, nggak pede, dsb. Eh.. kok tau-tau sekarang udah jualan aja, udah punya online shop, ada yang beli pula, hahaha…

Semenjak menikah memang mindsetku pelan-pelan berubah. Dibesarkan di lingkungan PNS, dengan mayoritas keluarga besar juga PNS (guru), aku dididik untuk ‘udah.. jadi PNS aja, enak tiap bulan digaji’. Dari situlah aku mikir “Oh, iya ya, kalo jadi PNS itu tinggal masuk kerja otomatis tiap bulan gajian. Nggak ada yang namanya PHK, nggak ada yang namanya diputus kontrak, udah pensiun masih dikasih uang sama negara. Enak!”

Jadi rumusnya, PNS = santai + digaji + aman

Setelah terjun sendiri ke dunia kerja, ngerasain jadi PNS, menikah trus punya anak.. huaaaaahh… seringnya malah dihantui keinginan buat resign. Tapi ya dengan berbagai pertimbangan akhirnya toh nggak resign juga, hehe..
Kata suami, kalau mau resign harus punya pondasi ekonomi yang kokoh dulu, minimal punya usaha yang bisa diandalkan buat jadi sumber pendapatan. Bagi kami wanita itu harus tetap berpenghasilan. Kenapa? Karena walaupun suami lah yang punya kewajiban menafkahi keluarganya, tapi kita nggak tau sampai kapan suami bisa menafkahi keluarganya. Maka dari itulah aku memutuskan mulai usaha kecil-kecilan 🙂

Jualan apa sih? Ini loh jualanku…

Image

Mudah-mudahan nggak angin-anginan deh, hehe.. Do’ain yaaaaa…
Monggo yang minat bisa mampir ke fanpage Tufaila’s Shop 😉

Bos Macam Apa?

Bos macam apa yang dengan mudah mengancam anak buahnya?
“Kamu belum bikin ya? Saya nggak mau tau pokoknya kamu harus bikin. Kalo nggak bikin nanti kamu kena hukuman!”
Padahal si anak buah benar-benar tidak mengerti bagaimana cara menyelesaikan tugas dari si bos..

Bos macam apa yang seakan tidak punya empati pada anak buahnya?
“Oiya, saya lupa kamu lagi hamil ya? Nanti kalo ada apa-apa nggak tanggung jawab ya. Ini kan tugas (de el) jadi nggak usah ikut jalan-jalan”
Tidak perlu berkata seperti itu, tidak lihat anak buah Anda sampai menitikkan air mata karena perkataan Anda?

Bos macam apa yang tidak peduli dengan hak anak buahnya?
“Kalau perlu kita tidur di kantor menyelesaikan ini. Kita harus sama-sama, jangan karena yang kerja cuma 1-2 orang trus yang lain pulang duluan”
Padahal sebagian besar anak buahnya tinggal berkilo-kilo jauhnya dari kantor, punya suami/istri dan anak-anak yang menanti kepulangan mereka, dan apa yang dikerjakan sampai lembur itu sebetulnya bisa dikerjakan pada jam kerja..

Bos macam apa yang..

Ah, sudahlah..

-nyesek pagi-pagi-

Belajar (lagi) tentang MPASI

Sampai beberapa waktu yang lalu topik tentang MPASI adalah momok buatku. Anak umur setahun 3 bulan itu masih GTM berat, menolak hampir semua jenis makanan yang ditawarkan padanya dan lebih memilih nenen. Terpaan GTM selama berbulan-bulan akhirnya melemahkan tekadku untuk menyusun dan mengeksekusi menu MPASI untuknya. Bisa dibilang program MPASI untuk Aila GAGAL TOTAL.

Sekarang di usianya yang hampir setahun 5 bulan Aila selalu minta ‘mamam’ setiap bangun tidur, setiap orang lain makan, dan mulai mau makan lebih banyak dari sebelumnya *alhamdulillaah.. :’)*
Aku dan suami heran, makanya kami menyelidiki kenapa anak ini sekarang mau makan. Kesimpulan sementara adalah karena ASInya dikurangi. Sejak pindah ke Jakarta dan berganti pengasuhan (sekarang diasuh ibu mertua), Aila menolak ASIP. ASIP yang dengan susah payah kupompa setiap hari di kantor setetes pun dia nggak mau. Bahkan saat melihat enin (panggilan nenek dalam bahasa Sunda, red) memegang botol Aila langsung nangis meronta-ronta. Ya wis, daripada mubadzir kuputuskan berhenti pumping aja. Minggu pertama berhenti pumping terasa menyakitkan *nggak relaaaaa T_T*
Tapi mulai saat itulah pelan-pelan Aila mau makan 😀

Sekarang kuputuskan untuk memperbaiki kesalahanku dengan mempersiapkan jadwal dan menu yang lebih sehat untuk Aila.

Bismillah…

p.s. kalo ada yang punya jadwal dan menu MPASI buat anak di atas 1 tahun, boleh bagi-bagi yaa.. matur nuwun..

So Long (OST Winnie The Pooh)

It’s not complicated, or very hard to grasp
But every time I see you, I laugh
I won’t get to sappy, I’ve had no epiphany
I just enjoy your company

You test my nerves, it makes me stronger
So can you bother me a little bit longer?

And to say “good-bye” (good-bye)
Is to see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend…
And to say “good-bye” (good-bye)
Is to see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend like you

Well, I could dock the hours and you could cross the teeth
‘Cause letters alone are lonely
Well, I could be the blossom and you could be the bee
And then I could call you “honey”

You test my nerves, it makes me stronger
So can you bother me a little bit longer?

 And to say “good-bye” (good-bye)
Is to see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend…
And to say “good-bye” (good-bye)
Is to see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend like you

Some like to be alone, independent and on their one
All alone
I guess they’re free, not me!
Not me!

And to say good-bye (good-bye)
Is too see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend…
And to say good-bye (good-bye)
Is too see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend like you
And to say good-bye (good-bye)
Is too see the end (the end)
‘Cause it’s been so long since I’ve made a friend like you
Yes, it’s been so long since I’ve made a friend like you
Yes, it’s been so long since I’ve made a friend like you

-by Zooey Deschanel-

*     *     *

You can say that I’m in love with Winnie The Pooh and everything related to it 🙂

Romantisme a la Balita

Sore hari adalah saat yang paling menyenangkan. Ummi, abi, Aila, dan enin berkumpul dan bersantai sambil ngemil atau sekedar ngobrol. Kadang enin naik ke lantai 2 karena kecapekan seharian menjaga Aila. Jadi tinggallah kami bertiga guling-guling di kasur.
Seperti sore kemarin, si abi pulang lebih cepat karena kuliahnya cuma sampai siang. Ummi yang memang seharian di rumah *siaga banjir, jadi nggak ngantor* otomatis langsung ‘kalah pamor’ sama abi. Aila pun langsung nemplok abi, as usual. Nggak apa-apalah, malah bisa santai-santai 😀

Tapi menjelang malam Aila putar haluan, yang tadinya nemplok plok sama abi tiba-tiba lengket bener sama ummi. Umminya digelayutin, lagi duduk dikelilingin, dipegang sama abi ogah langsung nemplok ummi minta peluk/gendong. Pemandangan yang sangat langka 😀
Biasanya abi protes, tapi karena lagi capek berat akhirnya dibiarin. Jadilah ummi pontang-panting ngikutin si bocil ini ke manapun dia pergi (fyi, Aila udah bisa jalan sendiri, TAPI mogok jalan kalo nggak dipegangi, meskipun cuma pegang ujung jari atau ujung baju sekalipun. We don’t know why :D)

Bosan main sama ummi, dia towel-towel kaki abinya minta main. Uh, kalo udah main sama abi, keliatannya seruuu gitu. Main macem-macem, nyanyi-nyanyi, terbang, ngemil. Nah, mulai dari sinilah keromantisan Aila dimulai..
Pas lagi asik makan roti, tiba-tiba dia ambil secuil *seiprit ding saking dikitnya* roti lalu disodorin ke abi. Mulanya si abi nggak ngeh, lalu karena Aila terus-terusan nyodorin tangannya akhirnya abi mendekatkan wajahnya. Oo.. rupanya dia mau nyuapin abi 😀
Dengan senang hati abi makan roti pemberian Aila. Lalu Aila nyuil lagi rotinya dan kali ini giliran ummi yang disuapin. Yeay!
Itu dia lakukan berulang-ulang, gantian abi dan ummi. Pinternya… 😀

Akhirnya sepotong roti itu habis dan menyisakan remah-remah di kasur dan senyum lebar yang tersungging di wajah dan hati kami 🙂

Setelah diingat-ingat, bukan kali itu aja Aila bertingkah ‘romantis’. Banyak tingkah polahnya yang membuat kami tersenyum bahagia. Ah.. satu aja bikin bahagia kayak gini, apalagi kalau lebih ya? :p

Puasa Gadget

Mumpung lagi semangat nulis, nulis terussss… 😀

Akhir-akhir ini emaknya Aila mulai galau karena Aila menunjukkan gejala ketagihan gadget. Laptop, tablet, hp, setiap liat salah satu dari 3 barang itu langsung teriak-teriak sambil julurin tangan, tandanya dia minta pegang. Dulu waktu kami masih tinggal di Banda Aceh memang suami sengaja mengijinkan Aila buat mainan hp/tablet karena kami nggak punya ART *alesan aja nih*. Di tablet abi nyetok video/film kartun pendek, di hp abi install Tom sama game-game warna warni. Makin besar Aila makin ‘kasar’, suka bereksperimen sama apapun yang dipegang. Tablet digores-gores pake kunci motor, hp dibanting-banting *cekikikan inget ekspresi muka abi XD*

Sekarang ini Aila makin pinter. Dia pake taktik ngambek, kalo dilarang pegang gadget langsung ngambek semi ngamuk, pukul-pukul, nangis teriak-teriak. Aku nggak tegaan sih ya, jadi kukasih aja, haha.. *jangan ditiru*
Salahku juga sih, keseringan pegang hp di deket Aila. Sambil nenenin aku main hp, sambil nemenin Aila main aku main hp. Ini nih salah satu bukti bahwa anak itu peniru ulung. Dia tau hp itu asik karena emaknya keseringan main hp 😀

Buat menanggulangi bencana ketagihan gadget ini, aku ngusulin puasa gadget ke abi. Tau apa katanya?
“Boleh sih, tapi kalo laptop kayaknya nggak bisa deh… sama hp”, sambil nyengir.
Hahaha… bilang aja nggak mau :p
Yes it’s our fault for letting her have her way with those gadgets. So it’s OUR duty to fix this problem, right? Perlu komitmen kami berdua, bukan aku aja. Jadi ya kalo si abi belum bersedia ya.. ntar dulu deh *huuu… minta disomplak*

Sementara ini aku dulu yang jalan kali ya, pelan-pelan ajakin lagi si abi buat mengurangi intensitasnya main gadget pas di deket Aila. Kayaknya pake senjata ‘nggak mau kan anaknya jadi gadget freak trus lama-lama jadi menutup diri dan asik dengan dunia (gadget)nya sendiri?’ bakalan ampuh. Semoga! 😀